Rabu, April 04, 2012

Aku Terpaksa Menikahimu dan Akhirnya Aku Menyesal

Aku Terpaksa Menikahimu dan Akhirnya Aku Menyesal

Aku Terpaksa Menikahimu dan Akhirnya Aku Menyesal

Ilustrasi

Muslimahzone.com – Kisah “aku terpaksa menikahimu dan akhirnya aku menyesal” adalah kisah rumah tangga yang sangat memberi pelajaran bagi kita semua. Penyesalan yang datangnya hanya pada akhir karena keterpaksaan.

***

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Setelah menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.

Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja.

Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

“Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!”

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajeri oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

***

Begitulah penyesalan sang istri akhirnya, dia menangis dan menyesal. Ketika suaminya telah tiada, dia baru sadar betapa besarnya cinta suaminya kepada dia. Semoga hal ini tidak terjadi lagi dalam kehidupan sekarang tetapi hanya cintanya saja yang akan terjadi.
dipublikasikan oleh berbagai sumber
(zafaran/muslimahzone.com)
by Facebook Comment

Senin, Maret 26, 2012

to day i am so sad

I just want to say i am so tired so it make me so sad because i can not do more than when i was health


Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

Kamis, Maret 22, 2012

sarasehan adi akademi dakwah indonesia

Akademi dakwah indonesia (adi) semoga bermanfaat


Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

Kamis, Maret 15, 2012

UTS (Ulangan Tebgah Semester)

Hari ini uts anak anaak SMPIT Islamia all about ms word


Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

Selasa, Maret 13, 2012

Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

Senin, Maret 12, 2012

Ciri-Ciri Warnet yang berbahaya....Penting...!


JUST FOR YOU

copas dari grup kesayangan ane Yang Sering Ke WARNET, Coba Kalian Periksa Dibelakang PC Bila Ada COLOKAN HITAM Saya Sarankan JANGAN ONLINE Di WARNET Tersebut !!!

Karena Itu Memang Sengaja Dΐpasang Oleh Pihak WarNet Dengan Tujuan ...Untuk Merekam Atau Mengcopy Data - Data Kalian Yang Ada Diantaranya, Password E-Mail, Facebook, Internet Banking Atau Data - Data Penting Lainnya.
... Alat Ini Disebut HARDWARE KEYLOGGER ...

Tolong Bagikan Pada Teman - Teman Lainnya Yang Sering Online Di WarNet .... :)

NB : Hati - Hati Sebelum Bermain Di WARNET ।
Copasdarihttp://www.facebook.com/groups/whfoundation
by Facebook Comment

all about onthel

Wah sore ini cukup mendung dibarengi dengan badan yg sudah kelelahan sepulang kerja..

Onthel kupajang dan kuambil fotonya..tak mau ketinggalan si ninin yg akhir akhir ini mulai aku tinggalkan..boros bro...mana minumnya harus pertamax...tahu sendiri harganya..ehm tap namanya hobi ya mas bro tetep aja sneng sebagaimana senangnya mgunakan onthrl walaupun cukup melelahkan ngoesnya...tapi onthelku ini ada oper giginya lho...biarpn jadul tapi telnolognya sudah lumayan tinggi mas bro...hitung hitung harganya juga lumayan tinggi..kalo dibeliin fixy udah dapat dua kira kira...


Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

Rabu, Maret 07, 2012

Duh Kasihan Banget...alangkah angkuhnya orang kaya itu


SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARNA KELAPARAN, HAKIM MENANGIS SAAT MENJATUHKAN VONIS !! diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar,.... namun manajer PT A**** K**** ( B**** grup) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bg warga lainnya. Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', ktnya sambil memandang nenek itu,. 'saya tak dpt membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jd anda hrs dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tdk mampu bayar maka anda hrs msk penjara 2,5 tahun, spt tuntutan jaksa PU'. Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, smtr hakim Marzuki mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang 1jt rupiah ke topi toganya serta berkata kpd hadirin. " Saya atas nama pengadilan, jg menjatuhkan denda kpd tiap org yg hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yg membiarkan seseorg kelaparan sampai hrs mencuri utk memberi mkn cucunya, sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kpd terdakwa ." Sampai palu diketuk dan hakim marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dgn mengantongi uang 3,5jt rupiah, termsk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT A**** K**** yg tersipu malu krn telah menuntutnya. Sungguh sayang kisahnya luput dari pers. Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yg bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media tuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain utk bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yg berhati mulia..sumber: http://www.facebook.com/irulalfath by Facebook Comment

Senin, Maret 05, 2012

hiburan pada pernikahan miss herma

Suasana qosidahan di tengah ranainya tanu. Sembari menunggu penghulu yg belum juga hadir. Hadirin dihibur oleh team qoshidah dari majlis taklim ibu 2 setempat...


Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

semangat pagi terus

Kenapa kita ucapkan semangat pagi terus padahal hari sudah sore? Ya karena kita ingin menyemangati sahabat kita agar selalu mempunyai smangat seperti di pagi hari.






Published with Blogger-droid v2.0.4
by Facebook Comment

Senin, Juni 01, 2009

MENJADI SUAMI PENGERTIAN

Dalam hidup berkeluarga, peluang terjadinya konflik sangat banyak. Dari persoalan-persoalan yang kecil hingga persoalan yang besar bisa menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga. Pensikapan masing-masing, antara suami dan istri sangat menentukan kualitas hubungan suami dan istri selanjutnya. Sebut saja misalnya ketika seorang istri teledor saat menggoreng tempe. Gorengan tempenya hangus, sebab ia tidak bisa berkonsentrasi pada gorengannya. Telepon berdering keras, anak yang digendong menangis karena ngompol. Ribet, bingung dan stres! Sementara sang suami hanya tidur-tiduran sambil menunggu gorengan tempe tersedia. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh si suami ketika mengetahui tempe yang dinanti-nantikannya hangus dan tidak bisa dimakan?

Menyikapi kasus tempe hangus seperti itu, setiap suami mungkin akan berlainan sikapnya.

Seorang suami mungkin akan mengatakan, "Kamu gimana sih, masa goreng tempe saja nggak bisa...?! Emang dulu nggak pernah diajarin ibu kamu masak?"

Pedas, ketus dan menusuk! Suami itu marah-marah dan tidak mau tahu apa yang dialami istri. Ia hanya mau tempe kesayangannya tidak hangus dan bisa segera ia makan. Ia tidak mau tahu betapa susah istrinya menggoreng tempe dengan seabrek kesibukan yang harus ia tangani. Kesibukan istri yang 'super heboh' tidak membuatnya ber-empati pada istri tercintanya.

Sebagian suami lain akan bersikap berbeda. Saat mengetahui tempe yang digoreng istrinya hangus, ia mengatakan, "Cara menggoreng tempe itu begini lho... begitu saja tidak bisa." Mulutnya ngedumel sembari mengajari istrinya menggoreng tempe. Sementara istrinya dibiarkan merasa bersalah dengan merasa 'bego' seolah sama sekali tidak bisa menggoreng tempe.

Tentu saja dua model pensikapan suami tersebut menimbulkan dampak yang berbeda pada sikap istri. Sebagian besar istri akan membenci suami-suaminya bila suami berbuat demikian. Mereka akan mengatakan suami mereka adalah suami yang galak, sok tahu, dan hanya mau menang sendiri.

Lain halnya bila seorang suami memiliki sikap yang manis. Meski tempe yang digoreng hangus, ia bisa mendatangi istri dengan lembut seraya berkata, "Kamu sedang letih ya, Mah. Ada yang bisa saya bantu untuk meringankan beban kamu?" Dengan kata-kata menyentuh seperti itu, seorang istri bisa saja langsung menangis saking terharunya. Hatinya yang panas membara seolah diguyur air es yang dingin dari kutub selatan. Byuurrr! Ia merasa suaminya bagaikan sosok lelaki yang penuh pengertian dan penuh perhatian. Bukan kecaman yang ia terima, bukan makian yang ia dapatkan. Namun ia justru mendapatkan perhatian yang luar biasa dari suami tercinta. Hilanglah kepenatan pekerjaan. Hilanglah kegalauan hati dan pikiran. Semuanya sirna hanya karena kata-kata. Tempe yang hangus sudah dilupakan. "Masa bodo dengan tempe hangus." katanya dalam hati.

Inilah yang dibutuhkan dalam menyikapi konflik. Rasa empati dan perhatian yang proporsional merupakan air segar di kala dahaga konflik mulai menggarang. Jadilah suami pengertian agar istri merasa tenang di kala membutuhkan. Sehingga bahtera rumah tangga akan semakin aman berlayar mengarungi dahsyatnya hidup yang penuh ombak dan gelombang.

Burhan Sodiq, S.S
Penulis adalah reporter MQ 100,9 FM Solo
Sumber: eramuslim, 04 April 2005 by Facebook Comment

BUNDA, SEMOGA BOTOL ITU MENJADI SAKSI

"Assalamualaikum..." kuketuk pintu rumah perlahan setelah turun dari ojek. Yup, aku pulang malam hari ini. Sore tadi aku sempat menelpon bunda (panggilan untuk isteriku) dan mengatakan bahwa hari ini mulai lembur lagi. Seperti biasa, tiap awal bulan aku harus membuat laporan untuk setiap pelanggan di tempatku bekerja.

Suasana di sekitar rumah kontrakan kami sudah sepi dan aku membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Biasanya bunda menungguku pulang sambil tidur-tidur ayam, jadi pintu tidak dikunci, namun terkadang ia sudah terlelap dalam mimpinya ketika aku sampai di rumah.

"Ah, sudah pukul setengah sebelas," gumamku. Dan tepat dugaanku, bunda sudah tertidur di samping jagoan kecil kami yang bernama Muhammad Rasyid, anak pertama kami. Perlahan aku melangkah dengan kaki agak menjinjit lalu kukecup pipi mereka berdua, sambil tangan kananku menjinjing sepatu. Maklum kami mengontrak rumah petakan yang desainnya memanjang kebelakang. jadi, bila ingin ke dapur berarti aku harus melewati kamar tidur dulu.

Sambil menaruh sepatu di kardus tempat lap, kulihat banyak botol susu yang kotor menunggu dijamah supaya bisa dipakai kembali esok. Kami tidak mempunyai rak sepatu karena menurut ibu, dapur kami sudah terlalu sempit untuk ditambah rak sepatu. Lagipula sepatu yang ada hanya punyaku dan bunda, hanya 2 pasang saja, jadi tidak memakan banyak tempat.

Selesai shalat isya dan ba'diyah, aku langsung mencuci botol susu yang kotor itu. Wah, banyak sekali. Setelah selesai mencuci, aku harus segera merebus botol-botol itu, biar Bunda tidak repot esok pagi.

Alhamdulillah, aku dan bunda sudah berkomitmen untuk memberi Rasyid ASI. Walaupun sekarang sudah tidak ASI ekslusif, namun aku bersyukur komitmen tersebut masih kuat dijaga dan insya Allah bisa sampai 2 tahun.

Sungguh aku bersyukur, istriku mau rela repot setiap hari menenteng botol susu saat berangkat ke kantor dan menyempatkan waktu untuk memerah ASI di sela waktu istirahatnya di kantor. ASI tersebut disimpannya di lemari es, dan dibawa pulang selepas usai jam kantor untuk persediaan susu Rasyid esok hari.

Ah, sayang semoga usaha kita selalu mendapat ridhaNya dan anak-anak kita menjadi anak-anak shalih, garda depan pembela dien kita.

Samar aku teringat isi Surat Al Baqarah ayat 233, "Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna ..."

"Aku bangga sekali padamu bunda", ujarku dalam hati.

Walaupun isi ayat ini seruan, namun maknanya begitu agung. Allah tahu yang terbaik buat anak-anak kita.

Dan Allah juga Maha Adil ketika ayat tersebut dilanjutkan dengan, "... seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya... Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya..."

Subhanallah, semoga botol susu itu menjadi saksi perjuangan kita, sayang.

Ayah sayang bunda, sungguh.
Wallahu 'alam bishshowab.
Sumber: eramuslim, 05 April 2005 by Facebook Comment

MENIKAH, BUKAN SEKEDAR MEMADU CINTA

MENIKAH, BUKAN SEKEDAR MEMADU CINTA

Rumahku surgaku", ujar Rasulullah singkat saat salah seorang sahabat bertanya mengenai rumah tangga beliau. Sebuah ungkapan yang tiada terhingga nilainya, dan tidak dapat diukur dengan parameter apapun. Sebuah idealisme yang menjadi impian semua keluarga. Tapi untuk mewujudkannya pada sebuah rumah tangga (keluarga) ternyata tidaklah mudah. Tidak seperti yang dibayangkan ketika awal perkenalan atau sebelum pernikahan. Butuh proses, butuh kesabaran, butuh perjuangan, bahkan pengorbanan juga ilmu!

Saat ini, persoalan dalam keluarga membuat banyak pasangan suami istri dalam masyarakat kita menjadi gamang. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Wajar, karena itulah hakikat hidup. Bukan hidup namanya jika tanpa masalah. Justru masalah yang membuat manusia bisa merasakan kesejatian hidup, menjadikan hidup lebih berwarna dan tidak polos seperti kertas putih yang membosankan. Namun jangan sampai masalah-masalah itu mengendalikan diri kita hingga kita kehilangan hakikat hidup.

Lihatlah sepanjang tahun lalu, tahun 2004, begitu banyak pasangan yang mengajukan perceraian ke pengadilan agama dengan berbagai macam alasan. Memang yang lebih banyak terangkat adalah kisah rumah tangga para selebritis yang tak henti menghiasi layar kaca tentang rusaknya hubungan rumah tangga mereka. Tapi sesungguhnya itu hanya puncak sebuah gunung es. Karena masyarakat awam pun tak sedikit yang rumah tangganya bermasalah, bahkan mereka yang mendapat sebutan aktivis dakwah.

***
Begitu banyak buku-buku pernikahan yang beredar di pasaran, bahkan sebagian menjadi best seller. Tak hanya buku-buku non fiksi, bahkan para fiksionis pun lebih senang mengangkat tema–tema merah jambu karena lebih disukai pasar. Isinya kebanyakan bersifat provokatif kepada orang-orang yang belum menikah agar segera menikah. Namun sayangnya hampir semua buku-buku itu isinya terlalu melangit.

Maksudnya lebih banyak menceritakan pernikahan (kehidupan rumah tangga) pada satu sisi yang indah dan menyenangkan. Sementara sisi "gelap" pernikahan jarang sekali yang mengangkat. Tentang kehidupan setelah pernikahan, tentang biaya-biaya berumah tangga, dan hal-hal lain yang tentu tidak sepele dalam rumah tangga.

Isitrahatlah sejenak dari bermimpi tentang pernikahan. Jika mimpi itu hanya berisi bagaimana mengatasi rasa gugup saat akad nikah. Atau tumpukan kado dan amplop warna-warni menghiasi 'bed of roses'. Atau kalau hanya mengharap salam indah dan atau jawaban salam dari kekasih. Apalagi membayangi bisa menatap, berbicara dan menghabiskan waktu bersama belahan hati tercinta.

Pernikahan tidak cuma sampai di situ, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.

Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost' atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.

Di tengah masyarakat yang kian sakit memaknai pernikahan, semoga kita tetap memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku pernikahan yang isinya ngomporin. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni adalah tanggung jawab dan pengorbanan.

Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa. Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetapakan banyak 'kejutan' yang tak pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan komunikasi bakal jadi ujian yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.

Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan kelemahan diri. Memahami diri sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita.

Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan, penghasilan besar, berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribidi), berwibawa (wi...bawa mobil, wi...bawa handphone, wi...bawa laptop), dan sebagainya.

Tapi, pernahkah kita berpikir untuk membantu seseorang yang ingin mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik hari demi hari bersama diri kita?

Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter pasangan kita. Belajar untuk memahami apa saja yang ada dalam dirinya. Menerima dan menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya. Pun membantu membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.

Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan, perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil? Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri...

Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial(keluarga). Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit membangun peradaban jika kondisi 'dalam negeri' masih tidak beres. Maka butuh keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan...

Ini bukan cerita tentang sisi "gelap" pernikahan (wong saya sendiri belum nikah!). Tapi seperti briefing singkat yang menyemangati para petualang yang bakal memasuki hutan belantara yang masih perawan. Yang berhasil, bukan mereka yang hanya bermodal semangat. Tapi mereka yang punya bekal ilmu, siap mental dan tawakkal kepadaNYA. Karena pernikahan bukanlah sebuah keriaan sesaat, namun ia adalah nafas panjang dan kekuatan yang terhimpun untuk menapaki sebuah jalan panjang dengan segala tribulasinya.

Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan. Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan-kesatuan yang terpisah dalam dua ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta dari dunia yang penuh beban dan ukuran menuju dunia mimpi dan ilham. Ia adalah penyatuan dari dua bunga yang harum semerbak, campuran dari keharuman itu menciptakan jiwa ketiga.

Wallahu'alam bisshowab.
Sumber: eramuslim, 06 April 2005 by Facebook Comment

Kamis, April 02, 2009

Aku Anak Palestina

AKU ANAK PALESTINA
Palestina, ya, Tuhan menghendaki aku terlahir di Palestina. Negeriku, Palestina, darahku, Palestina. Aku terlahir di tengah desing peluru dan aroma kematian. Aku tak tahu, mungkin saat aku dilahirkan, tak jauh dari sisiku, ada saudaraku sesama anak Palestina yang meregang nyawa dengan luka menganga di dada dan kepala akibat peluru yang meghujam atau pecahan bom yang mendera.
Aku menangis saat dilahirkan, itulah garis hidupku, untuk menangis diawal kehidupanku. Mungkin tak jauh dari sisiku, ada juga yang menangis, ya, Ibu dari anak Palestina yang kehilangan anak akibat kejamnya peperangan. Anak itu sudah tidak bisa lagi menangis, mana mungkin, dia sudah terbujur kaku, tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang pasti sakit tak terkira…
Ibuku, pasti tersenyum saat aku lahir ke dunia, meski aku yakin, ia tak akan menampakkannya saat melalui lorong kematian di rumah sakit yang penuh sesak dengan gelimpang korban anak Palestina. Ibuku, pasti menangis jua, meski tertahan sesak di dada.
Ayahku, saat itu tak ada, kelak aku tahu bahwa saat aku memandang dunia, dia tengah memandang kematian dengan sekedar batu melawan tank dan tentara yang membabi buta, menyerang menggila. Aku beruntung, masih bisa bertemu ayahku, meski pada akhirnya aku harus rela, ayahku kelak juga terbujur di tengah deru pesawat tempur yang memuntahkan bom kemana saja, di kota yang kucinta.
Gaza, itu tercatat dalam buku kelahiranku, aku terlahir di Gaza.
Masa kecilku, kulalui dengan mainan senjata dan perang-perangan, ya, bagaimana tidak. Kotaku dikuasai pasukan asing bersenjata. Sesekali kulihat senjata itu menyalak, memuntahkan isinya, ada gas air mata, dan tentu ada yang peluru tajam meminta nyawa, warga Palestina, dan tak jarang anak Palestina.
Aku melihat anak Palestina seusiaku, sudah berani melawan pasukan asing meski hanya dengan ketapel kecil berisi sejumput batu yang tak berarti apa jika mengenai tameng tentara atau besi kendaraan lapis baja. Mereka berani tampil ke muka hingga ke dekat moncong senjata. Aku tak tahan, akhirnya akupun ikut jua.
Aku senang, karena aku merasa sebagai pejuang, alias jagoan. Aku tak takut, bukankah anak Palestina lain juga tidak takut ?
Aku belum berusia remaja sampai suatu saat kelak aku kehilangan kawanku yang kulihat kerap melempar batu dan melontar ketapel tak lelah-lelahnya, ya kelak ku tahu itu bernama Intifada. Kawanku menjadi korban Intifada.
Lama kelamaan aku menjadi terbiasa, melihat dan mendengar kawan, saudara, kerabat ataupun orang tak kukenal yang hilang atau tak tentu semesta, kabarnya dibawa pasukan asing dimasukkan ke penjara gelap gulita, atau tewas tak bernama. Aku terbiasa mengalami kehilangan, aku terbiasa melihat dan merasakan derita, aku terbiasa melihat airmata dan pasti aku terbiasa melihat warna merah mengalir dimana-mana.
Kata semua orang, kini kau sudah menjadi anak Palestina !.
Baru kutahu, anak Palestina berarti anak terjajah, yang harus membebaskan negeri dari cerita kelam negeri yang terlunta. Dan baru kutahu, Israel adalah negara yang dahaga atas tanah Palestina. Aku mulai merasa, bahwa aku bermakna dan bangga menjadi anak Palestina.
___________________
Kini, di penghujung tahun, kudengar lagi deru mesin tempur berseliweran di langit kotaku, kudengar dentuman membahana di sudut-sudut wilayah permaiananku, kutatap kilatan cahaya mematikan menyilaukan pandangan mataku disertai bunyi sirene di segala penjuru.
Pagi, siang dan malam terus berlanjut tak menentu, deru itu, dentuman itu dan kilatan cahaya itu menyergap seluruh sisi hidupku. Kulalui hari dengan berlari, berlindung dan bersembunyi dari serbuan tak menentu.
Aku tak tuli, kudengar tangisan dimana-mana, kudengar jerit teman sebaya, Ibu-ibu Palestina menggendong anak dan orang tua paruh baya yang terpaksa harus terpapah tanpa daya. Dan kudengar lenguh terakhir nyawa di dada.
Aku tak buta, kulihat luka, kulihat jasad dimana-mana, kulihat merah itu ada dan tak terkira, kulihat kotaku tak lagi indah mempesona. Dan harapan itu sepertinya sirna.
Aku tak menangis, meski ayahku menjadi jasad tersisa di tengah gempuran melanda kota. Tak ada lagi tangis, aku sudah terbiasa, seperti juga anak Palestina lainnya.
Waktu itu tiba, kata orang mulai ada perang kota !
Aku berlindung dibalik reruntuhan bangunan rumah ibadah, yang hancur oleh tembakan serdadu nista, aku lihat, ada orang Palestina bersenjata, dengan tutup wajah dimuka, kutahu juga ada remaja Palestina memanggul senjata. Mereka sigap, lincah, berlari ke sudut-sudut tak terjamah, melawan pasukan asing yang menyerbu kedalam kota. Aku tahu, mereka siap mati di tanah tercinta.
Ah, seandainya aku bisa melalui hari-hari ini, tanpa sebutir peluru mengenai dada, tanpa pecahan bom menerpa kepala, mungkin aku tak-kan lupa, ini catatan kelam manusia di tanah terjajah, Palestina.
Tuhan, perkenankan aku menjadi remaja, agar aku bisa berlari membawa bendera Palestina, berikat kepala, bolehlah juga bersenjata, apa adanya, melawan pasukan Israel sampai tetes terakhir itu tiba.
Kalau kau berbaik hati Tuhan, ijinkan aku menjadi dewasa, agar aku mengikat keras bendera Palestina di tiang dan sisa bangunan menjulang ke angkasa. Kulekatkan ikat kepala, selekat jiwa dan raga, senjata, apapun bisa kuguna, melawan hingga gelora di dada sirna bersamaan dengan hembusan nafas yang tersisa.
Aku anak Palestina, selamanya Palestina, darahku, merahnya Palestina.. by Facebook Comment

silabi penelitian kualitatif

PENILAIAN
1. Tugas penulisan paper dan presentasi topik perkuliahan (30%)
2. Ujian tengah semester (30%)
3. Ujian akhir semester (40%)

BUKU TEKS
• Anselm Strauss & Juliet Corbin. Basics of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
• Barney G. Glaser & A.L. Strauss. The Discovery of Grounded Theory. Chicago: Aldine Publishing Company.
• Deddy Mulyana. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
• Egon G. Guba. Towards a Methodology of Naturalistic Inquiry in Educational Evaluation. Los Angeles: University of California.
• Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja Karya.
• Noeng Muhadjir. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
• Robert C Bogdan & Sari Knop Biklen. Research for Education. An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
• Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.
• Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: CV Alfabeta.

BUKU PENUNJANG
• Arief Furqon. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional.
• Aminuddin (Ed.). Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastera. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.
• Basrowi & Sukidin. Metode Penelitian Kualitatif: Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendekia.
• James P. Spartley. Participant Observation. New York: Holt, Rinehart and Winston.
• Julia Brannen. Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
• Michael Quinn Patton. How to Use Qualitative Methods in Evaluation. London: Sage Publication.
• Sanapiah Faisal. Penelitian Kualitatif. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.
• S. Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. by Facebook Comment

Senin, Februari 23, 2009

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta
Penulis: M. Fauzil Adzim
Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,” kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepadaAllah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isti, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.
Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda. by Facebook Comment

sambutlah jodoh dengan senyum




Enteng jodoh. Diatara doa yang selalu dipanjatkan orang tua kepada Allah untuk anak gadisnya. Juga tentunya diidamkan oleh gadis itu sendiri. Jodoh memang sesuatu yang gaib seperti halnya rezeki, hidup, dan mati. Perkara-perkara ini sudah ditetapkan Allah 50.000 tahun sebelum penciptaan alam ini. Karena termasuk misteri Ilahi, makanya orang banyak berharap dan berdoa yang baik-baik, enteng jodoh, luas rezeki, badan sehat dan sebagainya.
Jodoh adalah bagian dari hidup, tak heran bila dalam menghadapinya bermacam-macam sebagaimana menghadapi hidup. Ada yang pesimis, tak sedikit pula yang pesimis.
Optimis vs Pesimis
Sikap optimis biasanya bila perempuan itu merasa mempunyai nilai ‘jual’. Nilai ‘jual’ di sini biasanya mempunyai hal-hal yang secara lahiriyah bagus. Punya wajah cantik adalah faktor utama wanita lebih percaya diri, apalagi bila ditunjang dengan kekayaan dan kepintaran, percaya diri pun lebih besar lagi.
Padahal tidak satupun dalil, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat serba unggul. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan asumsi-asumsi kita selama ini.
Adapun sikap pesimis biasanya karena perempuan itu merasa banyak kekurangan. Misalnya merasa tidak cantik, sudah tua, pendidikan rendah, tidak bisa masak, orang miskin, latar belakang keluarga yang kurang harmonis serta sederet kekurangan lainnya. Hal ini dirasakan bukan saja sebelum ada orang yang berminat. Bahkan ketika perempuan itu dalam masa proses taaruf. “Aku tidak sebaik yang mereka katakan, mungkin mereka tidak tahu kekurangan-kekuranganku, kalau ditulis mungkin bisa berlembar-lembar, “ begitu kata seorang gadis pada laki-laki yang berminat kepadanya.
Bagi gadis usia di bawah 25 tahun mungkin masih optimis saja, toh dia merasa mudah dan masih merasa punya nilai ‘jual’, tapi ketika usia beranjak naik. Kekhawatiran pun mulai datang. Sehingga ada seorang teman berkelakar, usia 17-20 tahun seorang gadis akan berkata, “Siapa saya?,” 20-25 tahun akan berkata, “Siapa kamu?,” tapi kalau sudah 25-30 tahun akan berkata, “Siapa saja?,” dan usia 30 tahun ke atas akan berkata, “ Siapa mau akan dapat hadiah!.”
Afwan, kelakar ini bukan dalam rangka menyudutkan anda para gadis senior. Namun mengambil kesimpulan dari apa yang terjadi pada umumnya, walaupun tidak bisa digeneralisir. Ya realitanya memang demikian para lelaki berburu daun muda. Tengok misalnya saat lelaki mulai banyak menceritakan tentang kebaikan seorang wanita, tapi langsung berhenti lantaran diberitahu soal usianya, lalu berkata, “Sayang ya sudah tua.” Bagaimana pula laki-laki yang mundur teratur dalam proses taaruf setelah mengetahui usia calonnya. Tentunya banyak peristiwa lain yang membuat pilu.
Impian besar
Wanita mana yang berharap berat jodoh, tentu saja tidak ada, yang ada cuma enteng jodoh. Bahkan dalam benak setiap wanita yang belum menikah apalagi yang sudah ‘berumur’ sekalipun, datangnya jodohmerupakan sebuah impian besar. Impian menjadi seorang istri, sekaligus seorang ibu. Biasa tidur sendiri, kini berdua. Dulu tak ada tempat curhat kini ada pendengar setia, suami tercinta. Saat masih sendiri bila ada persoalan menyelesaikan sendiri, sekarang ada teman berbagi masalah. Biasanya saat pergi hanya seorang diri, kini ada yang menggandeng. Dan masih banyak lagi impian-impian besar tentang indahnya menjadi seorang istri.
Di balik impian besar itu, maka tak jarang rasa gundah apalagi usia kini merangkak ke angka 25 menjadi semacam ketakutan yang luar biasa bagai monster yang siap menerkam. Betapa banyak para gadis yang tidak percaya diri lantaran kekurangan yang ia miliki, sementara para lelaki dalam versi beberapa gadis hanya mau memilih gadis yang cantik. Akankah kita berkecil hati? Satu sisi kita ingin menikah sementara fisk kita ‘bukan’ idola laki-laki. Pada sisi lain, laki-laki egois hanya memandang kecantikan fisik sebagai pilihan.
Sebagai orang yang beriman tentu saja merasa ‘kalah’ dalam arena pencarian jodoh karena kekurangan yang dimiliki sementara laki-laki maunya yang cantik, shalihah, dan seabrek kriteria gadis ideal lainnya, bukan merupakan solusi yang terbaik. Justru yang perlu kita lakukan adalah tidak membenamkan diri terhadap ketidakpercayaan diri kita menjadi percaya diri, bahwa urusan jodoh merupakan hak prerogatif Allah. So, bagaimana melakukan perubahan diri lebih baik lagi, mulai dari menata diri agar baik luar dalam, juga memperbaiki seni bergaul, dan tak kalah penting dari semua itu adalah merubah paradigma dari konsentrasi mana yang harus dipilih menjadi konsentrasi pada perubahan diri ke arah yang lebih baik.
Sambutlah..
Seorang wanita wajar berharap mendapat suami yang paling baik tak tekecuali anda, kendati usia tidak bersahabat lagi. Karena, memang fitrah setiap insan ingin mendapatkan yang terbaik. Juju saja, saat usia seorang wanita mulai beranjak dari 25 tahun seperti yang dialami oleh banyak para gadis rasa cemas mulai menggelayuti pikirannya. Jangan-jangan jodohku tak kunjung tiba apalagi merasa banyak kekurangan, sepertinya tak ada sesuatu dalam diri yang bisa membuat laki-laki tertarik.
Kecemasan itu wajar, tapi jangan terlalu didramatisir. Mungkin saja anda merasa mempunyai kekurangan, tapi yakinlah setiap manusia mempunyai keunikan tersendiri. Siapa pun dia, pasti ada keunikan dalam dirinya. Tak sedikit kita melihat tampang oke banget, tapi perilaku buruk, atau ada juga tampang kaya artis sinetron tapi gonta ganti lelaki, naudzubillah. Ada pula tampang sih biasa-biasa saja tapi kepribadian yang kuat dengan didasari keimanan yang benar sehingga yang tampak dalam dirinya yang indah-indah saja, seperti akhlak yang bagus, penyayang, senyum yang tulus, dan sifat-sifat mulia yang lainnya justru membuat laki-laki merasa simpai, karena wanita yang mulia jaman kiwari langka, seribu satu. Dari sekian seribu wanita itu, tentu saja kita berharap andalah yang satu itu.
Memang laki-laki menyukai keindahan. Tetapi harus kita pahami arti dari sebuah keindahan. Keindahan itu bisa muncul dari semua wajah wanita tak terkecuali anda. Jadi, bagaimanapun bentuk wajah anda keindahan bisa muncul dan memancar dari wajah anda. Kok bisa? Terang saja karena keindahan itu adalah perpaduan antara keserasian dan keselarasan. Wanita yang serasi dan selaras mudah menjadi orang yang indah.
Bisa saja anda secara lahir tak terlalu cantik tapi karena akhlak yang baik bisa membuat anda is the best. Keindaha akhlak seperti pemaaf, pemurah, penyayang, jujur, taat kepada Allah, dan sifat yang mulia lainnya akan bisa menutupi kekurangan secara lahir.
Itu artinya, dengan siapa pun anda bergaul akan membuat semua orang terkenang anda. Setiap kali orang bertemu dengan anda, ia akan merasa tenang, sejuk, bahkan bertambah keimanan sesorang. Sehingga sesorang merasa sulit untuk berpisah dengan anda. Kebaikan dan keindahan akhlak anda menyebar kemana-mana, maka jangan heran bila banyak laki-laki yang antri untuk mendapatkan anda.
Sebab banyak lelaki shalih yang mendamba pendamping hidupnya yang memiliki keindahan akhlak walau secara fisik biasa-biasa saja. Sebaliknya, seberapa pun cantiknya seorang wanita kalau tidak mempunyai keindahan akhlak tidak akan dipilih oleh laki-laki shalih. Wanita seperti ini tentu saja akan menjadi pilihan laki-laki yang kurang bagus agamanya.
Jadi tidak berlebihan bila Nabila mengajak anda tersenyum menyambut jodoh karena insyaallah anda seorang wanita yang memiliki keindahan akhlak yang akan menjadi perhatian semua orang. Wallahu a’lam. (Ree dan AF)
Dikutip dari Majalah Nabila, Maret 2006. by Facebook Comment

Sabtu, Februari 21, 2009

adab do'a

بسم الله الرحمن الرحيم

KEUTAMAAN BERDO’A
Allah Ta’ala berfirman :
وقال ربكم اعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين ( المؤمن : 60 )
Dan robmu berfirman : Berdo’alah kepada-KU niscaya akan KU perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina. ( QS Al Mu’min : 60 )
Dan firman Allah yang lain :
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعاني فايستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون ( البقرة : 186 )
Dan apabila hamba hamba KU bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah,bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahku dan hendaklah mereka beriman kepadaku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( QS Al Baqoroh : 186 )
Nabi bersabda :
ألدعاء هو العبادة قال ربكم أدعوني أستجب لكم
Do’a adalah ibadah. Rob kalian telah berfirman : Berdo’ala kepadaku niscaya Akan Ku perkenankan bagimu . ( Abu dawud 2/ 78, At Tirmidzi 5/ 211, Ibnu Majah 2/ 1258 )
Nabi juga bersabda :
إن ربكم تبارك وتعالى حيي كريم يستحيي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يرد هما صفرا .
Sungguh, Rob kalian Maha pemalu dan pemurah.Ia malu kepada hambaNya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, jika Ia mengembalikan kedua tangannya itu dalam keadaan kosong ( tidak di kabulkan Doanya )
( HR Abu dawud 2/ 78, At Tirmidzi 5/ 557, Ibnu Majah 2/ 1271 Ibnu hajar mengomentari : sanadnya jayyid )
Nabi juga bersabda :
ما من مسلم يدعوا الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الأخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها قالوا إذا نكثر قال الله أكثر
Tidaklah seorang muslim berdo’a kepada Allah dengan permintaan yang di dalamnya tidak terdapat dosa atau permutusan silatr rohim kecuali Allah pasti memberikan kepadanya, karena do’a itu sala satu dari tiga Hal : Bisa jadi Allah segera mengabulkan do’anya itu, atau Dia menyimpan do’a untuknya di akherat atau Dia menghindarkannya dari keburukan yang sebanding dengan do’anya Para sahabat berkata : jika demikian kami akan memperbanyak do’a. Beliau bersabda : Allah lebih banyak lagi pemberiannya.
( HR At Tirmidzi 5/ 566, dan 5/ 462, Ahmad 3/ 18 )

ADAB ADAB BERDO’A DAN SEBAB SEBAB DI KABULKANNYA DO’A

1. Keikhlasan kepada Allah
2. memulai do’a dengan membaca hamdalah dan sholawat Nabi, juga mengakhirinya dengan itu.
عن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال :سمع رسول الله صلى الله عليه وسملم رجلا يدعو في صلاته لم يمجد الله تعالى ولم يصل على النبى فقال رسول الله : ((عجل هذا ثم دعاه فقال له أو لغيره : إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميدربه سبحانه والثناء عليه ثم يصلى على النبى ثم يدعو بعد بما شاء (رواه الترميذى حديث حسن صحيح )
3. Sungguh sungguh dalam berdo’a dan yakin akan di kabulkan.
4. Banyak mengulang do’a dan tidak tergesa gesa untuk di kabulkan.
5. Kehadiran hati sewaktu berdo’a.
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسملم : (( ادعو الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله تعالى لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه ( رواه الترميذى اسناده ضعيف )
6. Berdo’a baik dalam keadaan lapang maupun berat.
7. Hanya berdo’a kepada Allah semata mata.
8. Tidak berdo’a untuk kejelekan : keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
9. Merendahkan suara dalam berdo’a, tidak terlalu pelan dan tidak terlalu keras.
10. Mengakui dosa dan beristighfar ( memintak ampunan ) kepada Allah. Mengakui niokmat dan bersyukur kepada Allah terhadap nikmatNYa.
11. Tidak perlu membuat kalimat bersajak di dalam berdo’a.
12. Rendah hati, khusyu’, di sertai perasaan berharap dan takut.
13. Mengembalikan apa saja yang di peroleh secara Dzalim, di iringi dengan taubat.
14. Berdo’a tiga kali.
عن ابن مسعود رضي الله عنه : ((أن رسول الله صلى الله عليه وسملم كان يعجبه أن يدعو ثلاثا ويستغفر ثلاثا ( رواه أبو داود )
Dari ibnu mas’ud : bahwasanya Rosululloh suka berdo’a tiga kali dan beristighfar tiga kali. ( HR Abu dawud )
15. Menghadap kiblat.
16. Mengangkat tangan ketika berdo’a.
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسملم إذا رفع يديه في الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه. ( رواه الترميذى قال إنه حديث صحيح )
Dari Umar bin Khotthob ra ia berkata : Rosululloh SAW jika berdo’a mengangkat kedua tangannya dan tidak menurunkan kedua tangannya sanpai beliau mengusapkannya kewajahnya. ( HR Tirmidzi ia berkata : Sesungguhnya ini adalah hadits yang shohih )
17. Berwudhu sebelum berdo’, apabila bisa di lakukan dengan mudah.
18. Jangan sampai berlebih lebihan dalam berdo’a.
19. Hendaklah memulai berdo’a untuk diri sendiri, apabila hendak mendo’akan orang lain.
ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب ( إبراهيم : 41 )
رب اغفرلي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ( نوح : 28 )
20. Bertawasul kepada Allah dengan nama namaNya yang indah dan sifat sifatNya yang maha tinggi dengan amal sholih yang pernah di lakukan, atau dengan perantaraan do’a orang sholih yang masih hidup dan berada di hadapannya.
21. Hendaklah makanan dan pakaian orang yang berdo’a itu halal.
22. Tidak berdo’a, memintak sesuatu yang mengandung dosa atau permutusan hubungan silaturrohim.
23. Hendaklah melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
24. menjauhkan diri dari seluruh perbuatan maksiat.

WAKTU WAKTU, KEADAAN KEADAAN DAN TEMPAT TEMPAT DI KABULKANNYA DO’A


1. Pada malam laialatil qodar
عن عائشة رضي الله عنها قالت : (( قلت يا رسول الله إن علمت ليلة القدر ما أقول فيها : قال لي : اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني . ( قال الترميذى حديث حسن صحيح )
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : Saya berkata kepada Rosulalloh SAW, Wahai Rosululloh, jika aku mengetahui malam lailatul qodar apa yang harus aku katakana, beliau bersabda : Katakanlah Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau suka mengampuni maka ampunilah aku. ( Tirmidzi berkata : ini hadits hasan shohih )
2. Pada akhir malam dan seusai sholat sholat wajib.
3. Antara adzan dan iqomah.
الدعوة لا ترد بين الأذن والإقامة فادعو ( رواه أحمد )
Do’a antara adzan dan iqomah itu tidak di tolak maka berdo’alah. ( HR Ahmad )
4. Pada saat tertentu di setiap malam.
5. Ketika dikumandangkan adzan untuk melaksanakan sholat sholat wajib.
6. ketika turunnya hujan.
7. Ketika pasukan bergerak untuk berperang di jalan Allah.
( Surat Al Anfal : 45 – 47 )
8. Pada saat tertentu, di hari jum’at.
9. ketika meminum air zam zam, dengan niat yang tulus.
10. Pada waktu sujud.
11. Pada waktu terbangun di malam hari, dengan do’a yang ma’tsur ( terdapat riwayatnya dari nabi ) mengenai saat itu.
12. Apabila seseorang tidur dalam keadaan bersuci, kemudian terbangun di waktu malam dan berdo’a.
13. Ketika berdo’a :
لاإله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
Tiada ilah selain Engkau Maha suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang orang yang dzalim.
14. do’a orang lain,setelah wafatnya mayit.
15. Do’a yang di lakukan setelah memuji Allah dan membaca sholawat Nabi di dalam tasyahud akhir.
16. Ketika berdo’a kepada Allah dengan “ nama-Nya Yang Agung “, yang apabila di gunakan untuk berdo’a kepada-Nya Dia pasti mengabulkan, dan apabila di gunakan untuk memohon kepadanya Dia pasti memberi
17. Do’a seorang muslim untuk saudara muslimnya, dari kejahuan.
18. Do’a pada hari Arofah, di padang Arofah.
قال رسول الله صلى الله عليه وسملم : خير الدعاء يوم العرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلي, لا إله إلا الله وحدهل لاشريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شىء قدير. حديث حسن
19. Do’a pada bulan Romadhon.
20. Pada saat kaum muslimin berkumpul di dalam majlis majlis dzikir.
21. Pada saat mengucapkan do’a, ketika tertimpa musibah dengan :
إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم اجرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali, Ya Allah, berilah aku di dalam musibahku, dan berilah aku penggamnti yang lebih baik darinya.
22. Do’a yang di ucapkan dengan sepenuh hati dan benar benar ikhlas kepada Allah.
23. Do’a yang di aniaya kepada yang menganiaya.
24. Do’a orang tua untuk kebaikan anaknya atau untuk keburukannya.
25. Do’a yang sedang musafir ( bepergian ).
26. Do’a orang yang sedang berpuasa, selama ia belum berbuka.
27. Do’a orang yang berpuasa, ketika ia berbuka.
28. Do’a yang di lakukan oleh orang yang dalam keadaan terjepit.
29. Do’a yang di ucapkan oleh imam yang adil.
30. Do’a anak yang berbakt, untuk kedua orang tuanya.
31. Do’a yang di ucapkan setelah wudl, apabila seseorang berdo’a dengan do’a doa yang ma’tsur.
32. Do’a setelah melempar jumroh As Sughroh.
33. Do’a setelah melempar jumroh wustho.
34. Do’a yang di ucapkan di dalam ka’bah dan yang di ucapkan oleh orang orang yang melakukan sholat di hijir ismail, karena ia termasuk baitul haram.
35. Do’a yang di ucapkan di bukit shofa.
36. Do’a yang di ucapkan di marwah.
37. Do’a yang di ucapkan di masy’aril haram.( Masy’aril haran adalah bukit quza di muzdalfah )
Seorang mukmin senantiasa berdo’a kepada robnya di manapun ia berada.
( QS Al Baqoroh : 186 )
Hanya saja waktu waktu dan keadaan keadaan dan tempat tempat yang telah tersebut di atas, hendaklah lebih mendapatkan perhatian.

PROLOG

Dalam espedisi jihad , suatu ketika Qutaibah bin Muslim mengumpulkan para tokoh tokoh untuk konsolidasi, namun beliau kehilangan satu di antara mereka yakni muhammad bin waasi’, beliau memerintahkan salah seorang pasukannya untuk mencari beliau. Ternyata di dapatkan bahwa beliau sedang mengangkat tangannya untuk berdo’a.Hal itu di laporkan kepada Qutaibah bin Muslim. Beliau berkata : Biarkanlah ia demi Allah Muahmmad bin Waasi’ itu lebi aku sukai dari pada seribu bila pedang pilihan yang di pegang oleh seribu orang jagoan.
Diriwayatkan oleh muslim bahwa ada tiga orang yang terjebak di dalam gua dan akhirnya hanya dapat selamat dengan do’a. kita perna pula mendengar bahwa imam ahmad mendo’akan seorang ibu yang lumpuh. Seketika ibu tersebut sembuh dari sakitnya. Kisa tentang betapa ampuhnya do’a tersebut amat banyak kita dapatkan pada masa salaf. Bahkan sahabat Sa’ad bin Abi waqosh tidak pernah tertolak do’anya.
Namun hari ini, betapa kita kehilangan keampuhan do’a yang merupakan senjata bagi orang mukmin. Bukan berarti do’a sudah tidak layak lagi untuk di terapkan pada abad modern ini, bukan pula karena Allah tidak sudi lagi mengkabulkan do’a hambanya, namun keampuan tersebut lenyap karena adanya penghalangh yang dilakukan oleh manusia sendiri. Karena mereka melanggar aturan yang telah di gariskan olah Allah yang menyebabkan terhalangnya do’a Pelanggaran tersebut berupa makan minum dan memakai sesuatu tyang dari yang haram.

Di abada milinium ini, tak terbilang lagi banyaknya jenisnya makanan, minuman pakaian ataupun kosmetika yang muncul dengan berbagai kemasan dan merk. Ironisnya kaum muslimin tidak selektif dalam memilah dan memilih barang barang yang mereka konsumsi di samping mininya pengetahuan mereka tentang jenis barang barang yang haram. Barang kali inilah masa yang di janjikan oleh Rosululloh :
“ Akanada di antara umatku yang memakan beraneka ragam makanan dan minuman, berpakaian dengan segala macam jenis pakaian dan asal bicara, mereka itulah seburuk buruk ummatku” ( HR Thobroni )
Akibat buruk dari barang barang haram tersebut amat banyak namun kalau saja tidak ada akibat lain dari mengkosumsi barang haram selain terhalangnya do’a, maka ini adalah mala petaka yang besar karena orang orang yang telah kehilangan keampuhan do’anya berarti dia telah kehilangan senjata yang paling ampuh untuk meraih cita citanya. Ibnul qoyyim berkata : Do’a merupakan sarana yang paling ampuh untuk mendapatkan sesuatu yang di cari dan menolak sesuatu yang di benci.

PENGHALANG UTAMA DO’A

عن أبى هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسملم: إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال تعالى : يأيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا وقال السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملسبه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له.
Dari Abu hurairoah ia berkata : Rosululloh bersabda : Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, Dan Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang orang mukmin sebagaimana yang di perintahkan kepada para Rosul,maka Allah berfirman : Wahai para Rosul, makanlah dari apa apa yang baik, dan beramallah kalian dengan amal yang sholih. Dan Allah berfirman : Hai orang orang yang beriman, makanlah dari apa apa yang baik yang aku rizkikan kepada kalian. Kemudia beliau meyebutkan tentang seorang laki laki yang telah jauh perjalanannya, berambut kusut lagi berdebu dia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdo’a, Ya Rob… Ya Rob…sedangkan ia makan dari yang haram, minum dari yang haram, berpakaian dari yang haram, dan tumbuh dari yang haram, bagaimana mungkin akan terkabul do’anya?
Hadits ini mengisyaratkan kepada kita tentang adab dan waktu yang tepat untuk berdo’a sekaligus untuk menjelaskan tentang factor utama yang menghalangi terkabulnya do’a. beliau menyebutkan dalam hadits tersebut bahwa termasuk sebab di kabulkannya do’a :
Pertama : Safar ke tempat yang jauh. Ketika seseorang sedang melakukan safa dia memiliki kesempatan yang baik untuk berdo’a, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairoh ra bahwa Rosululloh SAW bersabda :
“ Tiga macam do’a yang tidak di ragukan lagi akan di kabulkan, yakni do’anya orang yang sedang di dzalimi, do’a orang yang sedang safar, dan do’a kedua orang tua untuk anaknya. ( HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah )
Kedua : Kusut masai dan berdebu lantaran safar, keadaan ini jugamenjadi sebab terkabulnya do’a sebagaimana hadits yang masyhur :
“ Sering kaliorang yang kusut masai dan berdebu mengenakan pakaian yang lusuh sehingga di tolak manusia ketika mengetuk pintu, padahal seandainya dia bersumpah atas nama Allah niscaya akan Allah kabulkan “
Ketiga : Menengadahkan kedua tangannya ke langit. Hal ini merupakan sebab yang agung terkabulnya suatu do’a. Rosululloh bersabda :
“ SesungguhnyaAllah Maha Hidup lagi Maha pemurah, Dia malu apabila seorang hamba menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya lalu menurunkan tangan dalam keadaan hampa. “ ( HR Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah )
Ke empat : Merendahkan diri kepada Allah seraya menyebut Rububiyah Allah. Ini adalah factor yang paling utama terkabulnya do’a. Al bazzar meriwayatkan dari ummul mukminin ‘Aisyah secara marfu’ :
إذا قال العبد يا رب أربعا قال الله لبيك عبدي سل تعطه
“ Apabila seorang hamba menyeru Ya Rob.. Ya Rob.. Ya Rob..Ya Rob.. Maka Allah berfirman : Labbaik wahai hamba-Ku mohonlah niscaya engkau akan di beri”
Barang siapa yang memperhatikan do’a-do’a yang terdapat dalam Al Qur’an niscaya akan mendapatkan betapa banyak do’a yang di awali dengan kata : Robbana ..” Wahai Robku.. seperti Robbana atina … Robbna hablana …Robbana ighfirlana.. Robbana laa tuakhidhna.. dan sebagainya.
Akan tetapi kendatipun sesorang berada dalam kesempatan dan saat yang paling tepat untuk berdo’a, juga menekuni adab adab pada saat berdo’a sebagaimana telah di paparkan diatas, di katakana oleh Nabi: Faanna yustajaabu lahu ? Maka bagaimana mungkin akan di kabulkan do’anya ? yang demikian itu karena dia melakukan perbuatan yang menghalangi terkabulnya do’a yakni makan, minum, dan berpakaian dari yang haram. Lantas bagaimana halnya dengan orang yang tidak menekuni adab dalam berdo’a sedangkan dia enjoy dengan barang barang yanga haram ? tentu lebih jauh lagi kemungkinan terkabul do’anya.
Dapat pula kita ambil kesimpulan dari hadits diatas bahwa menghindarkan diri dari barang barang yang haram adalah merupakan factor utama di kabulkannya do’a. Ikrimah bin Amar meriwayatkan dari Al Ashfar bahwa suatu ketika ada sesorang bertanya kepada sa’ad bin abi waqosh : Wahai Sa’ad dengan sebab apa anda di kenal sebagai orang yang makbul do’anya ? Beliau menjawab : Tiada aku mengangkat satu suap makananpun kedalam mulutku melainkan aku mengetahui dari mana asal makanan tersebut.
Jika meninggalkan perkara perkara yang haram merupakan factor utama terkabulnya do’a, demikian pula dengan mengerjakan amal amal sholih, inipun merupakan sebab bagi terkabulnya suatu do’a. Karena itulah Wahab bin Munabbih berkata :
“ orang yang berdo’a tanpa beramal sholih ibarat memanah tanpa tali busur.”
Akhirnya marilah kita bermuhasabah terhadap apa yang telah kita kerjakan, betapa kerapnya do’a kita panjatkan kepada Allah, betapa seringnya kita mendengarkan iostighitsah kubro di gelar, namun mengapa bangsa ini belum juga mentas dari multi krisis yang menerpa ? Apakah hal ini di sebabkan akrabnya masyarakat kita denganm barang barang yang haram maupun yang syubhat. Ataukah mereka hanya berdo’a namun dalam waktu yang bersamaan menetang hokum hokum Allah dan tidak mau tunduk dengan aturan aturannya ?
Ya Allah kabulkanlah do’a kami, sesungguhnya Engkau Maha mengabulkan do’a. by Facebook Comment