Minggu, Februari 15, 2009

VALENTINE’S DAY (satanic day)

VALENTINE’S DAY (satanic day)
Oleh Baeny Furizan*

SEBUAH PROLOG

V
ita seorang siswi SLTP di Jakarta mengangguk-angguk tanda setuju, jika diadakan Valentine’s Day. “Asal ngga’ diluar batas aja”, ujarnya. Berbeda lagi dengan Rachmat, Valentine’s Day adalah sebuah tradisi atau budaya barat yang merusak. “Bener-bener asli punya Barat, ngerusak abis deh pokoknya”. Tapi ada juga yang sedikit agak toleran, dengan argumennya. “Gue sich setuju-setuju aja, tapi kayanya orang tua deh yang mesti layak mendapat perhatian lebih, yang lainnya paling sebatas temen dekat aja”.
Meski ada yang berangga’pan Valentine’s Day asli banget budaya Barat, dan punya unsur yang merusak. Ada juga lho yang setuju abis dengan Valentine’s Day dengan alasan yang ngga’ kalah hebat “Meski dibilang ikut-ikutan budaya Barat, gue tetep Pe-De tuh, soalnya lewat acara itu, kita jadi dekat ama si doi khan!. Nah..boleh aja sich ada seribu satu macem alasan yang kita denger tentang Valentine’s Day, tapi kamu sebagai seorang remaja muslim pun kudu tau apa sich sebenarnya Valentine’s Day, dari mana asalnya, siapa yang mengagasnya, and kira-kira ada ngga’ manfaatnya buat kamu! jadi sekarang ada baiknya kita Flash back kebelakang buat membongkar kembali Valentine’s Day secara histori.

SEJARAH Valentine’s Day

E
nsiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidupdiakhir abad ke 3 M di zaman Taja Romawi Claudius II. Pada tangga’l 14 februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya.
Claudius II melihat St.Valentine mengajak manusia kepada agama nashrani (kristen), lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya. Dalam versi ke dua, Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang dari pada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St.Valentine menentang perintah itu, dan terus mengadakan pernikahan digereja dengan sembunyi-sembunyi dampai akhirnya diketahui oleh pihak kerajaan lalu dipenjara untuk kemudisn di eksekusi (hukum mati). Dalam penjara ia berkenalan dengan seorang putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. St.Valentine mengobatinya hingga’ sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertulis “Dari yang tulus cintanya, Valentine”. Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk nashrani bersama 46 kerabatnya.
Sementara versi ke tiga menyebutkan. Ketika agama nashrani tersebar di Eropa, disalah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yangmenarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa, dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “Dengan nama tuhan ibu, saya kirimkan kartu ini kepadamu”. Akibatnya sulit menghilangkan tradisi romawi ini, para pendeta memutuskan mengga’nti kalimat “dengan nama tuhan ibu” sehingga’ dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama nashrani.
Versi lain mengatakan St.Valentine ditanya tentang Atharid, tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, tuhan Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasannya tuhan yang sesungguhnya adalah Isa al Masih. Bahkan saat ini pun beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah kearah hati yang sebenarnya merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi!!

TRUS SIKAP KITA GIMANA…?

N
ah..lo! Disadari atau ngga’, kita sudah menjalankan perjalanan tradisi agama lain. Valentine’s Day secara khusus sebenarnya kembali mengajak kita untuk bernostagia dengan seorang pendeta yang bernama Valentine. Jadi bukannya kasih sayang. Salah besar kalo kamu sampe mengartikan Valentine’s Day sebagai hari kasih sayang. Tentunya kita patut bersedih karena banyak saudara remaja seiman kita yang terjerumus dengan hal seperti ini. Dan lebih naif lagi, karena kebanyakan dari mereka asal ngebebek tanpa tahu apa makna Valentine’s Day sebenarnya. Bahkan dengan alasan yang ngga’ berlandas mereka berkilah “Inikan hari kasih sayang”.
Bukankah jauh hari sebelum kita ada, ajaran Islam telah lebih dulu mengajarkan kita untuk saling berkasih sayang. Dengan kata lain kamu ngga’ ada alesan untuk merayakan Valentine’s Day hanya karena ingin berkasih sayang. Padahal kalo kita mau ngeh Islam udah komplit banget bo ngajarin tentang kasih sayang. Kurang apa coba, dalam sentiap memulai pekerjaan aja kita dianjurkan untuk membaca Bismillah. Yang artinya “dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Itu baru yang pertama. Dan kamu pun ngga’ harus cape-cape nunggu sampe 14 februari tahun depan hanya untuk berkasih sayang. Masa hanya untuk sayang ama orang harus nunggu tahun depan.
Kalo kita mau belajar lebih dalam tentang Islam, kita bakal bisa tampil dengan Fresh dan Cool tanpa harus takut dibilang ketingga’lan zaman. Pokoknya jangan sampe minder deh hanya gara-gara kamu ngga’ ngerayain Valentine’s Day. Lagian, ngga’ rugi juga khan kalo kita ngga’ ikut-ikutan ngerayain Valentine’s Day. Yang menjadi catatan penting Kita sekarang adalah bagaimana kita harus tetap menonjolkan kepribadian yang beretika ala ketimuran. Lembut tapi penuh kewaspadaan, dan cinta kasih sayang. Bukankah ini yang diajarkan Islam! Dan begitulah seharusnya sikap kita sebagai orang remaja muslim, yang kental dengan nilai-nilai religius. Kita jangan sampai berasumsi bahwa “kalau mau keren harus ngikut barat”. Sebenarnya Valentine’s Day yang kita rayakan ngga’ lain cerminan pengadopsian nilai-nilai barat yang sama sekali ngga’ memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita. Seperti seks bebas, aborsi, dugem dan drugs. Sehingga’ kita bisa lihat struktur kehidupan mereka porak poranda. Bahkan lebih gila lagi, di Barat sendiri 14 Februari adalah hari dimana sang pemuda melampiaskan nafsunya pada sang wanita, Free sex men!, dan kalo kita masih setia aja melestarikan budaya murahan tersebut Ngga’ menutup kemungkinan nantinya remaja di Indonesia yang notabene muslim akan berprilaku serupa, Na’udzubillahi mindzalik. Tentunya kamu ngga’ mau kan kalo masa depan kamu bakal terancam karena insiden 14 februari.

Islam ngelarang ngga’ sih..?

B
anget dong. Islam ngelarang banget kalo kamu ngerayain Valentine’s Day, apalagi sampe meyakininya sebagai ritual pribadi yang kamu anggap sah and ngga’ bisa kamu tinggalin saban tahun. Kamu bisa renungi ayat allah dalam surat al-baqoroh ayat 120: “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kami, sampai kamu mengikuti mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk allah adalah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka allah tidak akan lagi menjadi pelindung dan penolong”.
Allah jauh hari sudah memperingatkan kita, bahwa sampe kapanpun yahudi dan nashrani (kristen) ngga’ akan berhenti dan ngga’ bakalan lelah dengan menghalalkan berbagai cara untuk supaya kaum muslimin terutama remaja muslim mengikuti jalan mereka. Dan Allah kembali memperingatkan kita, kalau seandainya kita sudah tahu bahwa kesesatan yang mereka ciptakan merupakan jalan mereka, kemudian kita ikuti, maka Allah tidak akan pernah menjadi pelindung sekaligus penolong kita. Dengan kata lain kalo kita udah tau bahwa Valentine’s Day itu budaya mereka, dan kita masih saja merayakannya tanpa sedikitpun rasa berdosa, sama saja kita menghalalkan azab Allah terhadap diri kita. Dan Allah pun sekali-kali tidak akan menjadi penolong kita. Na’udzubillahi mindzalik.
Cukuplah bencana Tsunami yang terjadi di Aceh, dan ditempat lain untuk kemudian bisa kita ambil pesan tersirat, bahwa Allah telah mewanti-wanti hal tersebut pada kita. Berlepas apakah bencana yang terjadi ujian atau peringatan. Jangan sampai kerusakan moral, melangar larangan Allah, dan sombong kembali membuat Dia murka, dan tak segan-segan menimpakan azab kepada penduduk dimuka bumi ini.
Nah… sekarang mudah-mudahan sobat muda sekalian udah pada jelas. Sekarang mending kita ikuti apa yang Rasulullah contohin pada kita semua dalam berkasih sayang kepada sesama. Dengan setangkai bunga mawar merah kah kita mengungkapkan kasih sayang kita! Yang jelas ngga’. Dalam praktek kehidupan Rasulullah, beliau selalu mengucapkan salam ketika bertemu sang sahabat, beliau juga murah senyum kepada sesamanya, dan kadang-kadang memberi hadiah kepada sahabatnya. Sehingga rasa sayang diantara sesama dengan mudah terwujud.
Jadi seperti itulah cara yang beliau praktekkan, kita bisa melakukannya untuk saling menumbuhkan rasa sayang yang syar’i (yang Islami), tanpa harus menunggu 14 Februari. by Facebook Comment

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al Mu'minûn: 115)
Penciptaan Manusia

Syaikh Abu Bakar Al Jazairi rahimahullah menjelaskan perbedaan pandangan masalah awal penciptaan manusia di kalangan orang-orang mu'minin dan mulhidîn (orang atheis). Manusia menurut teori kaum atheis diciptakan melalui perkembangan dan pertumbuhan (evolusi) mahluk yang paling buruk bentuknya. Selama jutaan tahun mahluk tersebut berangsur-angsur ada yang terwujud menjadi kera. Dari kera itulah selama jutaan tahun pula ia berubah menjadi manusia. Sementara itu orang-orang mu'min memandang proses penciptaan manusia dengan pandangan yang sungguh mulia. Allah menciptakan langsung manusia pertama di langit dari bahan tanah liat (at Thîn al Lâzib; QS. As Saffat: 11), melalui tanganNya sendiri, lalu meniupkan kepadanya ruh, mengajarkan kepadanya nama-nama benda dan memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya ('Aqîdatul Mu'mîn, hal 21-22).
Kedua perbedaan ini sangatlah mendasar. Sebab pada kenyataannya kaum atheis menolak pendapat bahwa manusia pertama tercipta atas kehendak dan perbuatan Allah Ta'âla. Bahkan secara tidak sadar, kurikulum pendidikan di Indonesia dengan serempak mendukung penolakan ini dengan menjadikan sosok "Charles Darwin" yang melahirkan "teori evolusi" sebagai bahan pengajaran pada mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah yang notabene adalah anak-anak muslim.
Setelah manusia diciptakan, kemudian turun ke dunia atas kehendak Allah, maka manusiapun memulai sejarahnya yang baru di dalam hidupnya. Ketika menafsyirkan QS. Al Baqarah: 213, Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa di awal penciptaannya, manusia berada di atas manhaj rabbani yang sahih baik di dalam perkara aqidah, prilaku, akhlaq mapupun mu'amalah. Barulah setelah pergantian masa dari sepuluh generasi berlanjut, mereka kemudian menjauh dari keadaan seperti itu hingga muncullah peribadahan syirik. Dalam kondisi seperti ini Allah Ta'âla mengutus Nuh 'alaihissalâm sebagai rasul pertama untuk memperbaiki keadaan tersebut. (Tafsyîr Ibnu Katsir, jilid I, hal.237).
Apa yang diserukan oleh nabiyullah Nuh kepada kaumnya adalah dalam rangka mengembalikan mereka kepada tujuan penciptaan manusia yang sebenarnya yaitu; beribadah kepada Allah Ta'ala semata-mata. Akan tetapi seruan ini ditanggapi ibarat angin lalu bagi mereka. Setelah melihat kondisi kaum nabi Nuh alaihissalam yang semakin menujukkan keingkarannya, maka Allahpun tidak segan-segan untuk menurunkan adzab setimpal berupa banjir bah yang dahsyat.

Tujuan Penciptaan Manusia
Manusia tidak dibiarkan begitu saja di dalam hidupnya. Ia diberi sekian bentuk piranti kehidupan yang membatunya untuk tetap hidup sebagaimana mestinya. Akan tetapi, semua perangkat yang diberikan kepada manusia ini tidak dapat secara mutlak mereka gunakan sekehendaknya. Allahlah yang menentukan jalan kehidupan serta memberi petunjuk tentang bagaimana cara menempuhnya (QS. AL Insan: 3), Dia pulalah yang seutuhnya memiliki hak untuk menilai hasil perjalanan hidup manusia selama di dunia. Ini menunjukkan bahwa penciptaan manusia itu adalah sesuatu yang serius dan tidak main-main (QS. Al Mu'minûn: 115), sebab kepadaNyalah kita kelak akan dikembalikan.
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan rahimahullah menjelaskan bahwasanya "ibadah kepada Allah" menjadi tujuan utama penciptaan manusia, sebab Allah Ta'âla berfirman; "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (QS. Adz Dzariyat: 56-58). Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkanNya karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka (harus) menyembahNya sesuai dengan aturan syari'atNya" ('Aqîdah at Tauhîd, hal. 52-53).
Apa yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan di atas adalah suatu kebenaran. Sebab kebutuhan manusia terhadap Rabbnya adalah fitrah yang nyata yang tidak mungkin dipungkiri oleh setiap manusia. Setiap manusia membutuhkan pelindung, penentram, pemelihara, pemberi setiap kebutuhannya, dari zat yang Mahakaya. Terbetiknya hati manusia untuk membutuhkan zat yang Mahakaya ini di dasari oleh pengakuan seluruh ruh ciptaan Allah yang ditiupkan kedalam jasad manusia bahwa Allah adalah Rabb bagi mereka. Bukankah Allah telah bertanya kepada setiap ruh bani Adam dengan pertanyaan; alastu birobbikum (bukankah Aku adalah Rabbmu ?), ruh itu menjawab; balâ syahidnâ ! (ya, kami menjadi syaksi !) (QS. Al A'raf: 172).
Setelah manusia memahami proses penciptaannya, kemudian memahami untuk tujuan apa ia diciptakan, maka ia harus mengerti pula tentang batasan-batasan peribadahan yang dilakukannya. Syaikh Shalih bin Fauzan di dalam kitab yang sama kembali menegaskan bahwasannya ibadah itu bersifat tauqifiyah. Artinya, tidak ada satu bentuk ibadahpun yang disyari'atkan kecuali harus berdasarkan kepada al Qur'an dan as Sunnah.
Seorang hamba harus memahai secara benar tentang bagaimana dan untuk apa ia beribadah. Jangan sampai ia terjerumus kedalam kejahiliahan yang mengakibatkan rusaknya ibadah serta rusaknya tujuan dalam ibadah. Hal ini sejalan dengan pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menjelaskan tentang syarat diterimanya ibadah manusia dihadapan Allah, yaitu jika di dalamnya terpenuhi dua hal. Pertama, ibadah tersebut harus khâlison yaitu ikhlas semata-mata hanya untuk Allah. Kedua, ibadah tersebut harus showâban (baik) yaitu dilakukan dengan berittiba' (mencontoh) kepada sunnah rasûlullâh (Syadzarâtul Balâtîn, hal. 402).

Tujuan Ibadah

Setiap ibadah, maka ia memiliki maksud atau tujuan. Secara hakiki (maqsud ashliy), sebagaimana dijelaskan oleh Al Imam As Syatibhi rahimahullah bahwa setiap ibadah dimaksudkan untuk mentauhidkan Allah dan menajdikanNya sebagai satu-satunya tujuan pada setiap keadaan. Akan tetapi setiap ibadah juga dapat disertai tujuan lain yang mengikutinya (maqsud at tabi’ah) yang hal itu dibenarkan secara syar’i. As Syatibhi mencontohkan seperti harapan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, untuk mensucikan jiwa, atau mencari keutamaan-keutamaan (Al Muwafaqat fi ushulil Ahkam, jilid I, hal. 126).
Apa yang diterangkan oleh Al Imam Asyathibi di atas merupakan pandangan yang haq (benar), yang keluar dari lidah ahli tauhid. Pandangan tersebutlah yang menjadi inti dari da’wah para nabi dan rasul yang pernah diutus Allah di muka bumi ini. Hal itu pula yang dilakukan oleh para sahabat di dalam memulai da’wah mereka.
Di dalam ibadah, maka terkandung di dalamnya keyakinan seseorang terhadap apa yang ia ibadahi. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada umat ini di dalam hal ibadah telah menunjukkan hal yang serius. Munculnya kesyirikan dari tingkat masyarkat bawah hingga para selebriti seringkali kita lihat dibanyak media. Di media cetak, kita semua membaca bahwa saat Lumpur lapindo takterkendali, berapa banyak diantara umat ini yang mengadakan acara-acara sesajian di sana. Juga dalam kasus pencarian pesawat Adam Air yang hilang, bukankah mereka mengikut sertakan paranormal untuk ikut mencari ?, dan bayak kasus-kasus lain.
Mereka tidak sadar, bahwa perkara ibadah terkadang dapat menjadikan seseorang jatuh kedalam bid’ah yang mukaffarah (menyebabkan pelakunya murtad) maupun mufassiqoh (yang menyebabkan pelakunya menjadi fasiq/berdosa besar). Oleh karena itu, wajib bagi setiap kita untuk berhati-hati dan membekali diri dengan ilmu yang benar. Kesempurnaan manusia di dalam amal perbuatannya tergantung kepada ilmu yang sahih serta bermanfaat dan ‘amal yang shalih. Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengaskan hal itu dengan istilah al huda wa dinil haq. Ketika beliau membahas tentang tafsyir surah Al ‘Ashr, beliau berkata; “Allah bersumpah dengan kemahasucianNya bahwa setiap seseorang akan merugi kecuali bagi mereka yang menyempurnakan kekuatan ilmu dengan al iman, dan kekuatan ilmu dengan ‘amal shalih (Madarijuss Salikin, jilid I, hal. 6) by Facebook Comment

Senin, Februari 09, 2009

Mengamalkan Tauhid Dengan Sebenar Benarnya Dapat Menyebabkan Masuk Syurga Tanpa Hisab

(krya syeikh Abdul Wahab)
Firman Allah s.w.t.:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekali kali ia bukanlah termasuk orang orang yang mempersekutukan(Tuhan)” (QS, An Nahl, 120)

“Dan orang orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun).” (QS. Al Mu'minun, 59)

Husain bin Abdurrahman berkata: "Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair, lalu ia bertanya: "siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam?, kemudian aku menjawab: " aku ", kemudian kataku: " ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, kerana aku disengat kalajengking", lalu ia bertanya kepadaku: "lalu apa yang kau lakukan?", aku menjawab: "aku minta di ruqyah[10]", ia bertanya lagi: "apa yang mendorong kamu melakukan hal itu?", aku menjawab: "iaitu: sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Asy Sya'by kepada kami", ia bertanya lagi: "dan apakah hadis yang dituturkan kepadamu itu?", aku menjawab: "dia menuturkan hadis kepada kami dari Buraidah bin Hushaib:

"Tidak boleh Ruqyah kecuali kerana ain[11] atau terkena sengatan".

Said pun berkata: "sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadis kepada kami dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda:

"Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku menyangka bahawa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahawa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70 000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk syurga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu, kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu?, ada diantara mereka yang berkata: barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

Kemudian Rasulullah s.a.w. keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur[12] dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: "ya, engkau termasuk golongan mereka", kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab: "Kamu sudah kedahuluanUkasyah"(HR. Bukhori dan Muslim)


Kandungan bab ini:

1-Mengetahui adanya tingkatan tingkatan manusia dalam bertauhid.

2-Pengertian mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya.

3-Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, kerana beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.

4-Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para shahabat Rasulullah) kerana bersihnya diri mereka dari kemusyrikan.

5-Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan tidak melakukan tathoyyur adalah termasuk pengamalan tauhid yang murni.

6-Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang mendasari sikap tersebut.

7-Dalamnya ilmu para sahabat, kerana mereka mengetahui bahawa orang-orang yang dinyatakan dalam hadis tersebut tidak akan mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi kecuali dengan adanya pengamalan.

8-Semangatnya para sahabat untuk berlumba-lumba dalam mengerjakan amal kebaikan.

9-Keistimewaan umat Islam dengan kwantitas dan kwalitasnya.

10-Keutamaan para pengikut Nabi Musa.

11-Umat umat terdahulu telah ditampakkan kepada Nabi Muhammad s.a.w..

12-Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri bersama para Nabinya.

13-Sedikitnya orang orang yang mengikuti ajakan para Nabi.

14-Nabi yang tidak mempunyai pengikut akan datang sendirian pada hari kiamat.

15-Manfaat dari pengetahuan ini adalah tidak silau dengan jumlah yang banyak dan tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.

16-Diperbolehkan melakukan ruqyah disebabkan terkena ain dan sengatan.

17-Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu dapat diketahui dari ucapan Said bin Zubair: "Sungguh telah berbuat baik orang yang mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi …", dengan demikian jelaslah bahawa hadis yang pertama tidak bertentangan dengan hadis yang kedua.

18-Kemuliaan sifat para ulama salaf, kerana ketulusan hati mereka, dan mereka tidak memuji seseorang dengan pujian yang dibuat buat.

19-Sabda Nabi: "Engkau termasuk golongan mereka" adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian Beliau.

20-Keutamaan Ukasyah.

21-Penggunaan kata sindiran[13].

22-Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad s.a.w..

_____________________________________

Catatan Kaki:

[10] Ruqyah, maksudnya di sini, ialah : penyembuhan dengan bacaan ayat ayat Al Qur'an atau doa doa.

[11] Ain, iaitu : pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang, melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.

[12] Tathoyyur ialah : merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk kerana melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.

[13] Kerana beliau bersabda kepada seseorang : "Kamu sudah kedahuluan Ukasyah", dan tidak bersabda kepadanya : "Kamu tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka". by Facebook Comment

camping

maaf kawan saya baru belajar buat blog, jadinya belum begitu pantes dilihat. ini adalah foto ketika camping di bogor... by Facebook Comment

burung berkepala srigala


aduh kawan bagaimana seandainya kalau sudah begini?? duh pusing kalu dipikir-pikir by Facebook Comment

Minggu, Februari 01, 2009

BISMILLAH

AYYUHAL IKHWAH MARI KITA BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN! by Facebook Comment